Oomph Logo
 

  BERITA TERKINI

Kisah Emak-emak di Yogyakarta, Bikin 3.000 Porsi Menu Buka Puasa
6 Months, 1 Week ago

Kisah Emak-emak di Yogyakarta, Bikin 3.000 Porsi Menu Buka Puasa

Masjid di Yogyakarta ini punya tradisi unik. Sejak 1973, Masjid Jogokariyan Yogyakarta selalu memberikan makanan berbuka puasa kepada para jemaah yang datang. Setidaknya 3.000 porsi disediakan setiap harinya.

Dilansir Okezone, ada kisah di balik bagaimana setiap hari ribuan porsi makanan berbuka puasa tersaji di masjid yang beralamatkan di Jalan Jogokariyan No 36 Mantrijeron, Kota Yogyakarta ini.

Bu Yati (38), Bu Poniman (46), Bu Siti Kasih (60), dan Bu Istaria Eko (46), adalah ibu-ibu yang berjasa dibalik terhidangnya semua makanan ini.

“Yang paling lama ibu Siti, 20 tahunan. Awalnya dulu 2 orang. Kampung Ramadan Jogokariyan sudah 15 tahun, saya ikut baru 14 tahun. Setahun sebelumnya saya jualan. Ada yang udah sepuh saya disuruh ganti disini,” kata bu Bu Yati (38).

kampung ramadhan jogokariyan



Menurut salah satu relawan Kampung Ramadhan di Masjid Jogokariyan, jumlah piring yang disediakan pada tahun sebelumnya yakni hanya 2.200-2.300 piring dengan 500 piring cadangan, namun tahun ini mengalami penambahan yakni 2.500 piring makanan dengan 500 piring cadangan.

“Tiap hari kadang pasang surutnya berbeda, Alhamdulillah untuk sepuluh hari kemarin sampai sekarang masih cukup tinggi untuk hari ini. Biasanya ramai. Target awal puasa tahun ini 2.500, kita beri cadangan 500 piring, tahun kemarin cuma 2.200-2.300 cadangan 500 piring,” ujar Banu (29), relawan Kampung Ramadhan Jogokariyan.

Aktivitas memasak dilakukan mulai pukul 10.00 setiap harinya. Sebenarnya, tugas Bu Yati dan kawan-kawan sederhana, sekadar memasak nasi. Untuk lauknya sendiri digilir bergantian kepada kelompok ibu-ibu masyarakat Jogokariyan.

Di dapur, mereka seperti sudah paham betul perannya. Ada yang menanak nasi, ada yang memasak, ada yang mengaduk.

“Beginlah pekerjaan kami. Dari jam 10 sampai asar menunggu nasi matang. Terus begitu sampai memenuhi porsi berbuka. Biasanya sampai sembilan kali masak baru cukup. 5 dendeng nasi, 145kg beras yang dimasak,” kata Bu Yati.



Mereka tidak pernah mengenal istilah tidur siang. Waktu istirahat biasanya digunakan untuk duduk atau sekedar menikmati kipas sembari memantau nasi yang tengah dimasak.

“Banyak yang datang karena tertarik dengan Masjid Jogokariyan yang kasnya sampai nol rupiah, dan itu memang benar. Semua yang bekerja di sini digaji, dari masak nasi, lap-lap piring, cuci piring, menyusun lauk, memasak lauk, semuanya digaji satu bulan,” jelas Bu Poniman.

Tidak semua yang bekerja di sini merupakan masyarakat asli, namun ada pula musafir yang membantu.

“Ada dua orang laki-laki yang ngangkat nasi, yang satu musafir, dari Tasikmalaya,” jelas bu Poniman.

kampung ramadhan jogokariyan



Pekerjaan selanjutnya yang ada di depan mereka adalah membersihkan perabotan yang digunakan untuk memasak nasi dan merapikan serta membersihkan dapur. Lalu, setelah itu membersihkan diri di kamar mandi masjid.

“Mandinya disini, bawa baju ganti. Sebelum tarawih sudah pulang. Kalo mau tarawih ya balik lagi sini,” kata Bu Yati.

Kisaran pukul 16.00, tangan ibu-ibu Jogokariyan dengan cepat menuangkan nasi, lauk, piring, ke dalam satu urutan waktu yang teratur.

Tua, muda, laki-laki, perempuan, berbondong-bondong mempersiapkan menu berbuka. Jam 5, ceramah dari ustaz yang terjadwal mengiringi langkah kaki mereka yang sibuk mondar-mandir mengantarkan piring-piring berisi santap buka ke meja hidangan.

Jemaah tumpah ruah mengisi masjid hingga pekarangan Masjid Jogokariyan. Jalanan sekitar masjid digelar tikar untuk menampung para jamaah yang terus berdatangan.