Oomph Logo
 

  BERITA TERKINI

Anak Tukang Becak Raih Gelar Doktor di Usia Muda
2 Months, 3 Days ago

Anak Tukang Becak Raih Gelar Doktor di Usia Muda

Meski lahir dari keluarga miskin, gadis bernama Lailatul Qomariyah ini enggan minder. Mahasiswi Institut Tekhnologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini berhasil mengukir prestasi akademik cemerlang.

Dirangkum Kompas.com, wanita berusia 27 tahun ini adalah anak sulung dari pasangan Saningrat (43) dan Rusmiati (40), asal Dusun Jinangka, Desa Teja Timur, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan. Ia berhasil meraih gelar doktor teknik kimia di Fakultas Tekhnologi Industri, ITS Surabaya.

Disertasinya tentang aplikasi silika untuk solar sel yang berjudul “Controllable Characteristic Silica Particle and ITS Composite Production Using Spray Process”, berhasil dipertahankan di hadapan para pengujinya pada Rabu (4/9/2019) lalu.

Dari 80 mahasiswa lebih yang mengikuti program doktoral, hanya Lailatul yang siap mengikuti sidang terbuka dan dinyatakan lulus dengan nilai IPK 4.0.



anak tukang becak doktor

Laila, sapaan akrabnya, juga satu-satunya mahasiswa di kampusnya yang mampu menyelesaikan kuliah secara singkat, dari jenjang S2 ke S3, hanya dalam jangka waktu tiga tahun.

Lailatul cerita, setelah lulus dari SMAN 1 Pamekasan tahun 2011, ia melanjutkan ke ITS usai berhasil meraih beasiswa. Lulus S1 Fakultas Tekhnologi Industri, Laila kemudian melanjutkan ke program S2 di fakultas yang sama. Di jenjang ini, perempuan yang langganan ranking 1 sejak SD hingga SMA ini, hanya menjalani studi selama tiga bulan lewat program fast track.

“Selama S2, ada target IPK harus 3,5 jika mau dinyatakan lulus dalam program fast track. Alhamdulillah, IPK saya melampaui ketentuan itu karena IPK saya 4.0 sehingga S2 saya hanya tiga bulan,” terang Laila.

Usai lulus S2 program fast track, Laila kembali mendapatkan beasiswa melalui Program Magister Doktor Sarjana Unggul (PMDSU). Dari teman-teman satu angkatannya, hanya Lailatul seorang yang bisa mendapatkan PMDSU dari Kementrian Riset dan Tekhnologi Pendidikan Tinggi.



Masuk sebagai mahasiswa program doktoral, Laila langsung mendapatkan beasiswa untuk melakukan riset ke Jepang dalam rangka persiapan riset disertasi yang diajukannya, tentang pemanfaatan aplikasi silika solar sel sebagai pengganti energi yang dihasilkan dari minyak bumi dan batubara.

Di Jepang, Laila tinggal sendirian dari tahun 2017 sampai 2018, karena hanya dirinya satu-satunya mahasiswa yang bisa mendapatkan beasiswa dari pemerintah.

“Happy saja meskipun sendirian di Jepang. Ini semata-mata untuk mencapai cita-cita dan demi ilmu pengetahuan,” ujanya.

Pulang dari Jepang, ia langsung menuntaskan disertasinya. Dua profesor doktor yang menjadi promotor Laila, dan lima penguji dalam sidang terbuka, telah meluluskan Laila.



anak tukang becak doktor

Menurutnya, orang miskin sama-sama punya kesempatan besar memperoleh pendidikan tinggi. Tak ada orang bodoh jika keinginan untuk belajar begitu kuat.

“Kata siapa orang miskin tidak bisa sukses? Saya sudah membuktikannya. Ayah saya tukang becak dan ibu saya buruh tani. Namun, tekad yang kuat untuk mengangkat martabat kedua orangtua saya, saya menjawabnya dengan prestasi pendidikan,” ujar dia.

Saningrat, ayah Laila mengaku sangat bangga dengan anak sulungnya. Menurutnya, sejak Laila menempuh pendidikan di ITS, Saningrat tak banyak membantu dari segi pembiayaan. Laila sudah mandiri sejak masih SMA hingga ke perguruan tinggi.

“Seingat saya, biaya yang saya keluarkan hanya untuk membelikan dia sepeda motor dan laptop. Selain itu, saya sudah tidak membiayainya karena Laila sudah mengaku mandiri,” ungkap Saningrat.