Oomph Logo
 

  BERITA TERKINI

Apakah Pernikahan Jadi Satu-satunya Jalan Menuju Kebahagiaan?
2 Months, 1 Week ago

Apakah Pernikahan Jadi Satu-satunya Jalan Menuju Kebahagiaan?

Coba tanyakan ke teman-teman Anda yang sudah menikah. Umumnya mereka akan mengatakan pernikahan adalah komitmen seumur hidup yang disertai dengan tes karakter yang konstan, kompromi dan kejelasan nilai-nilai. Ditambah dengan anak, orang tua, dan tanggung jawab pekerjaan, Anda memiliki kombinasi yang sangat berat.

Namun, ada banyak orang yang mengandalkan pernikahan untuk memberikan kebahagiaan alih-alih menemukan kepuasan hidup dari dalam diri sendiri.



Ada asumsi yang mendasari bahwa pernikahan adalah semacam tiket emas menuju kebahagiaan seumur hidup. Menemukan seorang pasangan hidup entah bagaimana secara otomatis akan membuka gerbang surga.

Tentunya kita harus mengakui, bahwa bagi sebagian orang pernikahan bukanlah resep manjur yang dapat langsung mengubah kehidupan dari biasa-biasa saja menjadi sesuatu yang sepenuhnya, dan memuaskan secara permanen.



Kebahagiaan dan kepuasan dalam hidup bisa datang dari mana saja. Bisa datang dari karir, kegiatan di luar pekerjaan, atau dari keluarga sendiri.

Mungkinkah pernikahan jadi penghalang bagi semua hal baik lainnya dalam kehidupan yang ingin dicapai seseorang?

Kita tahu, dalam hidup berpasangan pasti ada pengorbanan. Tapi kadang-kadang pengorbanan itu bisa terasa miring, seolah-olah hanya satu pihak yang memberikan pengorbanan lebih. Itu sama sekali tidak terdengar seperti tawaran bagus.

Apakah itu berarti mimpi kebahagiaan hanya dapat dicapai bersama pasangan hidup yang layak dan pantas berbagi visi tentang apa yang dibutuhkan oleh kehidupan bersama? Mungkin.



Para ahli mengatakan Anda harus melakukan beberapa percakapan penting ketika suatu hubungan menjadi serius. Misalnya bagaimana kita menyusun hidup kita sehingga kita dapat memiliki keseimbangan antara karier dan hubungan yang baik.

Pasangan yang sempurna melihat kehidupan mereka sebagai proyek bersama. Mereka tampak sama-sama berinvestasi dalam kesuksesan satu sama lain seperti seperti mereka berinvestasi pada diri mereka sendiri. Hubungan mereka berubah dari ″Aku mengorbankan ini, kamu mengorbankan itu″ menjadi ″Bagaimana kita bisa menumbuhkan ini untuk kita berdua.″