Oomph Logo
 

  BERITA TERKINI

Terkendala Biaya, Gadis yang Piawai Gambar Sketsa Tak Lanjut SMA
4 Months, 1 Day ago

Terkendala Biaya, Gadis yang Piawai Gambar Sketsa Tak Lanjut SMA

Febby Lissa Ayu Aryanti (17), seorang remaja terpaksa menjadi penjaga warung kopi dan makanan ringan di Jalan Raya Cikembar - Surade, Kampung Cireundeu, Desa Bojongjengkol, Kecamatan Jampangtengah, Sukabumi, Jawa Barat.

Dilaporkan kompas.com, putri kelahiran 16 Februari 2003 ini tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang menengah atas karena masalah ekonomi kedua orangtuanya.

Sebelumnya Febby, sapaan akrabnya, lulus MTs tahun 2019 lalu. Selain menjaga warung milik orangtuanya, saat waktu senggang, Febby menggambar. Ia begitu piawai menggambar sketsa wajah.

Selain itu, anak pertama Yani Hendrayani (38) dengan ayah tirinya Aden Sobandi (50) ini juga punya pekerjaan lain, yakni memijat neneknya, Pipih (60) yang menderita stroke. Ia pernah diasuh lama oleh sang nenek.

“Sudah lebih enam bulan bantuin ibu di warung sama mengurus nenek yang lagi sakit stroke,” ungkap Febby.



febby sketsa
Foto: detikcom/Syahdan Alamsyah

Febby mengaku, sebenarnya setelah lulus MTs ia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA. Namun, karena kondisi ekonomi kedua orangtuanya yang terbatas, keinginan itu pupus.

“Sampai saat ini juga ijazah MTs belum diambil karena ada yang harus dibayar,” akunya.

Saat ditanya mengenai kemampuannya menggambar sketsa wajah, Febby mengaku keterampilan itu diperoleh secara otodidak. Awalnya saat masih kecil, ia sering mencoret-coret di kertas dan dinding.

“Waktu SD suka coret-coret saja, tapi lama-lama bisa menggambar sketsa,” tutur Febby yang bercita-cita menjadi pelukis.



febby sketsa
Foto: detikcom/Syahdan Alamsyah

Hingga kini, sudah banyak gambar sketsa wajah yang dihasilkan, terutama pesanan dari teman dan gurunya. Selain itu, ada juga warga atau kenalan yang diminta wajahnya digambar sketsa.

Biasanya, untuk anak-anak pelajar Febby mematok harga membuat sketsa wajah senilai Rp20.000 per gambar. Saat masih sekolah, uang hasil sketsa itu dipakai untuk membeli kebutuhan alat sekolah dan keperluan menggambar.

Ibu Kandung Febi, Yani Andriyani mengatakan, Febi merupakan putri pertama dari tiga bersaudara. Dari hasil jualan di warung per harinya, ia hanya bisa mendapatkan Rp100 ribu dan suaminya dari ojek hanya Rp50 ribu. Sementara di rumah tersebut tinggal tujuh anggota keluarga.

febby sketsa
Foto: detikcom/Syahdan Alamsyah



Bahkan nenek Febi, Pipih mengalami struk sejak enam tahun lalu. Di mana Febi kini juga membantu merawat neneknya.

Di sisi lain, Yani mengatakan, ijazah dan rapot Febi waktu di SMP masih ditahan di sekolah karena belum dibayar.

“Saya sebagai orangtua ingin anak sekolah lagi dan sukses karena punya bakat,” imbuh dia.

Yani melihat bakat Febi sejak anak kecil yakni umur 4 tahun melukis di dinding rumah dan SD makin bisa menggambar. Kini orangtua hanya bisa berdoa agar anaknya tersebut bisa meneruskan pendidikan seperti anak yang lain.

Sementara itu, Kepala Desa Bojongjengkol Dadan Sutisna mengatakan, keluarga Febi memang berasal dari kalangan tidak mampu dan belum mendapatkan bantuan pemerintah seperti program keluarga harapan (PKH) dan lainnya. Namun, ke depan pemerintah desa berupaya memberikan bantuan.